Battle of Midway

Pernahkah membayangkan bahwa nasib itu dapat berubah dalam waktu satu hari saja? Ya, hal ini bisa terjadi. Contohnya adalah nasib kekuatan inti angkatan laut kerajaan Jepang atau yang biasa disebut kido Buntai yang hanya dalam waktu satu hari saja hancur lebur. AL Kerajaan Jepan hanya sempat menjadi Angkatan Laut terkuat di kawasan Pasifik selama 6 bulan saja. Sempat menghancurkan markas pasukan Amerika di Pearl Harbour dan menggulung pasukan sekutu dikawasan tenggara Asia, nasib baik AL Jepang berakhir diwilayah kepulauan Midway. Ya, pada hari itu tanggal 4 Juni 1942 rencananya Jepang akan menaklukan pulau Midway yang dikuasai Amerika di tengah Samudera Pasifik dan menghancurkan sisa kekuatan Amerika disana. Untuk tujuan ini, Admiral Yamamoto sendiri mengirim pasukannya yang terkuat yaitu IJN 1st Air Fleet yang terdiri dari IJN Akagi, Kaga, Sōryū dan Hiryū beserta 248 pesawat tempur nya dan juga berbagai kapal perang pendukungnya dibawah komando laksamana Nagumo. Armada terkuat jepang yang dijuluki Kido Buntai ini merupakan kekuatan yang juga menjadi tulang punggung kekuatan Jepang saat menggempur Pearl Harbor. Yamamoto sendiri berada di battleship Yamato yang berada beberapa ratus kilometer dibelakang kekuatan Nagumo, dan baru akan bergabung ketika Nagumo sukses menghancurkan kekuatan tempur Amerika serta memantau pendaratan pasukan Jepan di Midway. Jepang optimis dapat menaklukan Midway seperti mereka meluluhlantakan Pearl Harbour, apalagi Jepang telah melakukan serangan pengalihan dengan menyerang kepulauan Aleutian di wilayah Alaska beberapa hari sebelumnya. Dengan serangan tersebut diharapkan pasukan Amerika akan mengirim pasukannya ke Aleutian, sehingga pertahanan di Midway menjadi lemah.

Namun yang tidak diketahui oleh Jepang, informasi tentang strategi militer mereka telah bocor dan diketuhui oleh tim pemecan sandi Amerika, HYPO,sehingga strategi ini diketahui oleh Amerika. Amerika pun bersiap mempertahankan Midway dengan segala cara. Amerika sendiri mengirimkan 3 kapal induk nya, USS Hornet, Yorktown, dan Enterprise, untuk mendukung operasi mempertahankan Midway. Di daratan Midway sendiri telah siap 4 skadron pesawat tempur dari US Navy, ditambah bantuan pesawat tempur dari US Marine air corps dan juga US Army Airforce yang mengirimkan pesawat skadron pesawat pembom B-17 Flying Fortess dan B-26 Marauders. Amerika sendiri sudah berniat untuk habis-habisan dalam pertempuran kali ini.  Jepang memulai serangan udara nya pada pagi hari tanggal 4 Juni 1942 dengan membom pangkalan udara Amerika di Midway. Amerika yang sudah siap segera mengerahkan pesawat pemburu mereka untuk menangkis serangan udara Jepang ini. Pasukan meriam antipesawat Amerika juga bereaksi sangat baik dan akurat sehingga serangan udara Jepang ini tidak optimal dan landasan pacu Amerika di Midway masih bisa beroperasi. Pasukan Amerika pun ganti membalas serangan Jepang dengan meluncurkan kekuatan udaranya dari Midway.  Serangan balik pertama pasukan Amerika terhadap armada Jepang ini sebenarnya masih bisa dipatahkan oleh Jepang, namun serangan ini membuat laksamana Nagumo menjadi “galau”. 

Beberapa skadron Jepang yang tadinya sudah disiapkan untuk menyerang armada kapal induk Amerika, diperintahkan untuk mengganti amunisi dan menyerang balik pangkalan Amerika di daratan Midway. Dan ketika pesawat tempur Jepang sudah dalam proses penggantian amunisi, datanglah informasi dari pesawat pengintai mereka jika Armada kapal induk Amerika mendekat. Maka berubah lagi lah keputusan Nagumo sehingga persenjataan pesawat tempurnya kembali diganti lagi. Kegalauan Nagumo ini menjadi fatal, karena lamanya proses penggantian Amunisi, pesawat tempur Amerika dari kapal induk keburu menyerang. Ketika serangan Amerika datang, Nagumo sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyerang balik karena dek kapal induknya mulai dipenuhi oleh pesawat tempur yang pulang menyerang Midway ditambah proses pergantian amunisi yang belum selesai sepenuhnya. Serangan Amerika berusaha ditangkis oleh pesawat patroli yang sudah mengudara terlebih dahulu untuk melindungi Armada Jepang. Namun, serangan Amerika yang terus menerus datang menyebabkan para skadron combat air patrol Jepang kewalahan dan membuat para penempur Amerika mulai dapat menerobos tirai payung pertahanan udara Jepang.  Bom-bom mulai berjatuhan diatas kapal induk Jepang dan Akagi menjadi korban pertamanya. Dek yang penuh dengan pesawat yang sedang mengisi bahan bakar dan juga amunisi memperhebat efek ledakan bom Amerika terhadap AKagi. Akagi pun menjadi kapal mati yang tidak bisa beroperasional lagi (keesokan harinya harus ditenggelamkan sendiri oleh pihak Jepang), dan Nagumo terpaksa memindahkan markas komandonya dari Akagi. Bom-bom dari pesawat pembom tukik Amerika pun mengenai kapal induk Kaga dan Soryu. Kedua kapal induk ini pun meledak dan tidak lama kemudian tenggelam.

Jepang mencoba membalas menggunakan skadron pesawat tempur yang masih tersisa dari kapal induk Hiryu dan menyerang kapal induk Yorktown. Serangan ini berhasil membuat kerusakan parah terhadap Yorktown dan ditinggalkan awaknya (Yorktown akhirnya tenggelam oleh serangan kapal selam Jepang keesokan harinya). Namun serangan balasan tersebut harus dibayar mahal karena posisi Hiryu jadi diketahui oleh pihak Amerika yang mengirimkan serangan balik spodaris. Setidaknya 4 bom tepat sasaran mengenai Hiryu yang mengakibatkan kebakaran serta kerusakan parah sehingga kapal tidak dapat diselamatkan dan memaksa pihak jepang menenggelamkan sendiri kapal induk tersebut. Musnah sudah kekuatan 1st airfleet Jepang yang sempat berjaya dalam pertempuran Pearl Harbour hanya dalam waktu satu hari saja.  Amerika sendiri memang banyak kehilangan pesawat tempur dan kapal induk Yorktown, namun mereka dengan cepat mampu mengganti kerugian dan terus menyerang sisa armada Jepang disekitar Midway. Mengetahui kapal induk berat bersama grup udaranya disapu habis, Yamamoto memerintahkan sisa armada untuk mudur. Setelah kekalahan ini, Jepang tidak bisa lagi melakukan serangan offensif strategis dan juga tidak mampu mengganti kerugian mereka dengan cepat. Inisiatif pertempuran pun mulai berpindah ketangan Sekutu dimana ini menjadi titikbalik peperangan dan awal mula kekalahan Jepang di front Pasifik.  

Alumni Ilmu Pemerintahan UNPAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Marketlab Indonesia

We Create We Colaborate


Open chat
Ada Yang Bisa Kami Bantu?