Dassault Rafale : The France Adorable Fighter

Pada bulan Febuari 2020 lalu dalam kunjungan nya ke Prancis, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto menyatakan ketertarikannya kepada pesawat tempur made in Prancis, Dassault Rafale. Dalam kunjungan tersebut, disampaikan pula minat Indonesia yang akan mempertimbangkan kemungkinan pengadaan 48 jet tempur Rafale. Memang perlu diketahui, hingga sampai saat ini Indonesia masih memerlukan tambahan pesawat tempur untuk mengisi kekosongan slot armada F-5 Tiger yang sudah pensiun, dan juga kemungkinan pengganti armada BAE Hawk-200 TNI AU yang akan segera pensiun juga. Jika jadi diakusisi, 48 unit jet tempur Rafale ini cukup untuk mengisi 3 skadron tempur TNI AU.

Rafale sendiri merupakan pesawat tempur canggih yang betul-betul bercita rasa ala Prancis. Hampir seluruh komponen nya dibangun oleh Prancis sendiri. Berklasifikasi sebagai pesawat tempur omnirole, pesawat ini bisa melaksanakan berbagai macam misi tempur dan siap berganti misi sesuai kebutuhan di medan pertempuran setiap kali Rafale lepas landas. Menurut penilaian, Rafale ini memang bisa menjadi salah satu alternatif terbaik untuk menggantikan pengadaan pesawat Su-35 Flanker apabila kontrak pengadaan nya jadi gagal terlaksana. Bobot yang tidak terlalu berat dan mesin ganda nya yang sangat bertenaga, memampukan Rafale take-off dari landasan yang pendek, bahkan angkatan laut Prancis mengoperasikan Rafale dari kapal induk Charles de Gaulle mereka.

Rafale memiliki design dengan sayap delta ditambah dengan canard yang berada dibagian depan sehingga dapat memberikan kelincahan tinggi dan manuver ekstrim ketika harus berduel dengan musuh. Untuk radar, Rafale sudah menggunakan sistem radar aktif, AESA dan berkemampuan untuk melakukan misi pertempuran jarak jauh (BVR). Selain dapat menggunakan persenjataan asal Prancis, Rafale juga dapat compatible dengan persenjataan negara NATO lainnya. Walau bukan pesawat siluman, namun Rafale memiliki yang memiliki ukuran yang “kecil” dan emisi radar yang rendah sehingga menyebabkan Rafale sulit dilacak oleh radar. Rafale memiliki kokpit yang canggih dengan system kendali HOTAS-nya dan juga tampilan tingkat lanjut dengan penggunaan layar sentuh serta penggunaan sistem imput suara yang dapat lebih memudahkan pilot dalam mengoperasikan Rafale. Rafale juga sudah mampu untuk melakukan pengisian bahan bakar diudara sehingga radius jelajah tempurnya pun bisa semakin jauh.

Rafale dapat membawa muatan yang diletakan dibawah 14 pylon yang tergantung di sayap dan bagian bawah pesawat, lebih banyak daripada F-16. Rafale sangat cocok menjadi tandem F-16 TNI AU dan juga menjadi kekuatan penyeimbang dalam tubuh TNI AU dimana walau made in negara Barat, Rafale bukanlah pesawat buatan Amerika. Saat ini kekuatan tempur utama TNI AU sendiri hampir separuhnya menggunakan pesawat F-16 yang terbagi di 2 skadron udara. Rafale sendiri sudah memiliki cap battle proven karena sudah pernah diturunkan dalam konflik di Afganistan, Irak, Libya, hingga konflik di Syria. Hingga kini Rafale akan dan sudah dioperasikan oleh 4 angkatan udara serta 1 angkatan laut di dunia. Hanya saja menurut pemberitaan harga Rafale terbilang cukup mahal untuk ukuran pesawat tempur generasi ke-4 , namun harga yang terbilang mahal ini sepadan dengan kualitas dan kehandalannya di medan tempur. Kerjasama antara industri pesawat Prancis dan PT DI cukup akrab, sehingga ada kemungkinan Rafale bisa dirakit di Indonesia, sehingga kemungkinan besar juga Indonesia mendapat limpahan teknologi (ToT).

Alumni Ilmu Pemerintahan UNPAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Marketlab Indonesia

We Create We Colaborate


Open chat
Ada Yang Bisa Kami Bantu?