Janissary Corps : The Usmani Spesial Force

Pasukan Janissary merupakan pasukan elite Turki Usmani yang dibentuk ketika masa Kesultanan Murad I atau sekitar tahun 1360an. Bisa dikatakan, pasukan Janissary merupakan pasukan profesional modern pertama di wilayah Eropa. Memiliki fungsi awal sebagai pasukan pengawal Sultan, pasukan Janissary memiliki pelatihan dan perlengkapan terbaik pada masanya. Direkrut dari anak-anak Eropa non Muslim yang sudah masuk islam, pasukan ini mendapatkan pelatihan dan indoktrinisasi yang sangat keras dan disiplin. Para Jannisari juga dilarang menikah hingga usia 40 tahun dan juga dilarang untuk berniaga. Tidak seperti pasukan lainnya, Janissary menerima gaji secara rutin dari Sultan. Dengan keistimewaan ini diharapkan pasukan Janissary setia terhadap Sultan.

Pasukan Janissary memliki spesialisasi dalam memanah, yang kemudian menjadi unit pertama dalam pasukan Usmani yang menggunakan senjata api / musket pada awal abad ke-16. Walau keahlian utama mereka memanah dan menembak, para Janissary juga dilengkapi dengan pedang kilijs atau kapak dan juga yatagan (pedang pendek yang menjadi ciri khas dan simbol pasukan Janissary) untuk pertarungan jarak dekat . Pasukan Janissary terkenal ketika mengambil peran vital dalam penaklukan Constatinople tahun 1453 dan terlibat hampir disemua aksi kampanye militer kesultanan Usmani. Meskipun Janissary adalah bagian dari tentara elit kerajaan dan pengawal pribadi sultan, korps Janissary bukanlah kekuatan utama militer Usmani ketika itu. Pada periode klasik, Janissary hanya sepersepuluh dari keseluruhan pasukan Usmani, sementara pasukan kavaleri Turki lah yang menjadi pasukan tempur utama kesultanan Usmani.

Namun, eksistensi dari pasukan Janissary ini berakhir tragis. Pada awal abad ke-17, Janissary memiliki prestise dan pengaruh yang sedemikian rupa sehingga mereka mendominasi pemerintah. Mereka dapat memberontak dan mendikte kebijakan dan menghambat upaya memodernisasi struktur militer. Mereka juga tidak segan melakukan aksi “coup” terhadap sultan apabila kebijakannya membahayakan kepentingan mereka seperti pada masa kesultanan Ahmed III dan juga Selim III. Penyalahgunaan kekuasaan oleh para Janissari, perlawanan terhadap reformasi dan biaya gaji bagi para Janissary yang terlalu besar namun banyak di antara mereka yang tidak benar-benar mengabdi sebagai tentara, menjadi sebuah hal yang tidak bisa ditolerir. Hal ini juga menyebabkan efektivitas tempur mereka menurun dalam pertempuran, yang menyebabkan pasukan Usmani kehilangan beberapa wilayah kekuasaan mereka di wilayah Eropa.

Pada akhirnya sultan Mahmud II membubarkan pasukan Janissary dalam peristiwa Auspicious Incident. Insiden ini bermula ketika Sultan Mahmud II berencana mereformasi Militernya agar bisa mengimbangi perkembangan militer di Eropa pada tahun 1826. Pasukan Janissary yang tidak setuju dengan reformasi ini mulai memberontak di ibu kota. Namun tindakan ini dapat dilawan oleh Mahmud II menggunakan pasukan Sipahis yang lebih unggul secara daya gempur dan juga ditambah duukungan penduduk ibu kota yang membenci Janissari. Serangan balasan ini cukup kuat sehingga dapat menyerang balik dan memaksa para pemberontak Janissary kembali ke barak mereka. Banyak Janissary yang terbunuh dalam aksi ini. Bagi yang selamat banyak yang dihukum mati maupun dipenjara. Beberapa yang beruntung, pada akhirnya terpaksa menyamar menjadi penduduk biasa dan melakukan pekerjaan biasa. Setelah membubarkan Janissari, Mahmud II membangun koprs tentara baru bernama The Mansure Army, untuk menggantikan peran pasukan Janissari.

Alumni Ilmu Pemerintahan UNPAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Marketlab Indonesia

We Create We Colaborate


Open chat
Ada Yang Bisa Kami Bantu?