Fall of Constatinopel : Selamat Datang Hari Kemenangan

Pada akhir Mei 1453, setelah hampir 2 bulan tentara Kesultanan Turki Usmani pimpinan Mehmed II mengepung Constatinopel memutuskan untuk mengakhiri pengepungan dengan serangan pamungkas. Constatinople merupakan ibu kota terakhir kekaisaran Byzantium, kerajaan Romawi timur yang sempat berjaya selama berabad abad. Sultan Mehmed memutuskan melancarkan serangan pamungkas pada 29 Mei 1453, atau 567 tahun yang lalu. Keputusan ini dilakukan karena Kaisar Byzantium, Constatine XI, pada tanggal 21 Mei 1453 telah menolak mentah-mentah usulan dari Sultan Mehmed II untuk menyerahkan kota secara damai. Selain itu melakukan pengepungan lebih lama lagi akan membuat moril pasukan Usmani turun dan juga terdapat kemungkinan ancaman akan datangnya pasukan bantuan dari sekutu Byzantium dari Eropa. Constatinopel sendiri merupakan kota yang sangat strategis, penguasaannya dapat membuka pintu bagi pasukan Turki Usmani untuk memperluas pengaruhnya ke wilayah Eropa dan mengontrol perdagangan antara Eropa dan Asia. Pasukan muslim sendiri sudah mencoba menaklukan Contantinople sejak abad ke-7, ketika zaman ke Khalifahan Bani Umayyah.

Pasukan Usmani mengintensifkan serangan menggunakan Artileri mereka untuk menggempur perbentengan Constatinopel sebelum melaksanakan serangan akhir . Terlepas dari gempuran dasyat tersebut, sebenarnya pasukan Byzantium yang dibantu oleh legiun asing yang berasal dari Venesia dan Genoa dibawah komando Giovanni Giustiniani Longo yang juga menjadi komandan lapangan seluruh pasukan Byzantium selama masa pengepungan, berhasil mematahkan serangan yang dilakukan pasukan Usmani selama periode pengepungan. Moril penduduk Constatinopel sendiri walau berada dibawah pengepungan bisa dibilang baik. Mereka yakin, selama mereka berdoa, pasukan Usmani tidak akan merebut kota. Namun semua sirna ketika sebuah pertanda muncul sekitar tanggal 24 Mei malam. Bulan purnama yang sedang nampak mendadak berubah menjadi bulan sabit dikarenakan terjadi gerhana bulan. Bulan sabit sendiri merupakan lambang kesultanan Usmani. Ditambah lagi keesokan harinya,ada cahaya aneh yang bersinar di atas kubah katedral utama Byzantium, St.Sophia. Cahaya yang bersinar terang tersebut mendadak terbang meninggalkan kubah St.Sophia ke atas langit. Sontak para penduduk Constantinople panik karena dua hal tersebut dianggap pertanda buruk dan moril mulai merosot. Hari itu pula kabar buruk datang dari armada laut Byzantium yang mencari armada bantuan dari Venesia. Mereka melaporkan bahwa tidak ditemukan adanya tanda-tanda pasukan bantuan tersebut sehingga dipastikan tidak ada bantuan yang akan datang dari arah laut.

Sultan Mehmed II memerintahkan untuk memulai serangan akhir, pada tanggal 29 Mei sekitar jam 01.30 dini hari. Diujung tombaki oleh pasukan Azap yang kurang terlatih dan legiun asing yang mayoritas beragama Kristen, pasukan Usmani menyerang. Mereka sengaja “mengobral” tentara nya yang lemah agar stamina pasukan Byzantium terkuras, setelahnya baru pasukan elit Janissari akan menerobos masuk untuk menghabisi musuh yang telah lelah. Mengetahui pasukan perintis Usmani menyerang, pertahanan Constatinopel yang dikomandoi oleh Giustiniani segera bereaksi dengan menembakan panah berapi dan menyambut serangan tersebut. Kaisar Constantine XI juga ikut serta turun hadir ke area penyerangan dan mendirikan pos komando di dekat gerbang St.Romanus sehingga meningkatkan moril pasukan yang bertahan. Walau kalah Jumlah, dalam setiap penyerangan terhadap sebuah perbentengan, pasukan yang bertahan bisa dikatakan lebih unggul. Banyak pasukan Usmani yang gugur dalam usaha pertama tersebut. Baru pada usaha penyerangan selanjutnya, Sultan Mehmed mulai menurunkan infantri beratnya yang berasal dari Anatolia dan didukung artileri. Walau sempat berhasil menembus tembok, pasukan Anatolia ini pun masih gagal menguasai kota setelah serangan balik Byzantium berhasil menghalau mereka. Pada akhirnya Sultan Mehmed memutuskan untuk mengerahkan pasukan elit Janissari nya. Serangan yang tiada hentinya mengakibatkan salah satu sektor pertahanan Byzantium ambruk dan direbut pasukan Usmani setelah prajurit Byzantium tidak mampu menutup pintu disektor tersebut.

Keadaan dipihak Byzantium semakin buruk setelah komandan Giustiniani roboh karena terluka akibat serangan musuh. Oleh orang-orangnya, Giustiniani langsung dievakuasi menuju kapalnya. Melihat hal ini, pasukan Genoa panik dan berusaha menyusul komandanya ke kapal. Tidak dapat menghentikan pasukan asing nya mundur, Constantine XI mencoba bertahan dengan sisa pasukan yang ada sebisa mungkin. Serangan pasukan Usmani sendiri semakin intens pada titik ini sehingga gerbang dan titik pertahan pasukan Byzantium jatuh ketangan Usmani. Didampingi oleh pasukannya yang setia, Constanine XI terlihat terakhir kali tetap berada di pos komandonya yang berada dekat gerbang St Romanus, dan ikut bertarung menghadapi gelombang pasukan Usmani sambil memimpin sisa pasukannya. Hingga saat ini, tidak diketahui pasti secara pasti bagaimana Constantine XI terbunuh. Tubuh Constantine XI tidak pernah ditemukan sehingga banyak versi cerita tentang kematiannya. Setelah menembus pertahanan terakhir di gerbang St Romanus, akhirnya Constatinople jatuh kepada pasukan Turki Usmani. Sultah Mehmed II sendiri baru memasuki Constatinople pada sore harinya. Pasukannya bersorak meneriakan Al-Fatih yang artinya sang penakluk ketika Sultan masuk ke dalam kota. Seruan ini lah yang kemudian membuat namanya terkenal sebagai Muhammad Al-Fatih, Sultan penakluk Constantinople. Setelah penaklukannya Sultan Mehmed II memindahkan ibu kota Usmani dari Erdine ke Constantinople. Nama Constantinople pun dirubah menjadi Istambul sebagai simbol atas kemenangan pasukan islam atas kota tersebut.

Alumni Ilmu Pemerintahan UNPAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Marketlab Indonesia

We Create We Colaborate


Open chat
Ada Yang Bisa Kami Bantu?